Isha menggigil dalam pelukan Leena. Namun untuk pertama kalinya sejak ia sadar, matanya menatap Leena dan Lynx tanpa ketakutan. Ia melihat kehangatan, perlindungan… dan harapan.

Ia mengangguk pelan, meski air matanya belum berhenti. "Baik… tapi… kalian jangan tinggalkan aku lagi…"

"Tidak akan," jawab Lynx tegas. "Kamu bagian dari keluarga kami sekarang. Nanti aku akan mengenalkan mu dengan anggota keluarga kita yang lainnya."

Dan untuk pertama kalinya, Isha yang cerdas dan rapuh… akhirnya merasa aman.

Melihat Isha yang sudah tenang, mata Leena kembali terlihat bersinar aneh.

Leena berdiri dengan napas teratur, tubuhnya tegak penuh percaya diri.

"Ayo, Lynx. Latih tanding denganku," ucapnya, penuh semangat."Kali ini kamu tidak akan menolakku lagi kan? Aku ingin tahu seberapa kuat kemampuanku sekarang."

Lynx mengerutkan kening, sedikit terkejut. "Kau yakin? Kita harus segera kembali menemui Kael dan yang lainnya."

"Tidak akan memakan waktu lama. Aku butuh mengasahnya sekarang tanpa harus menahan diri saat jiwaku masih menyesuaikan dengan kekuatan baru ini." kata Leena serius.

Lynx mengangguk pelan. Dalam hatinya, meski ada yang terasa aneh dengan sikap Leena, namun ia setuju. "Ini kesempatan yang bagus untuk menguji sejauh mana peningkatan kekuatan Leena, sekaligus membantunya memahami kekuatan barunya dengan lebih mendalam. Selain itu aku juga mungkin bisa mendapat petunjuk mengenai perasaan aneh tentangnya."

"Baiklah, ayo kita lakukan!" Jawab Lynx.

Lalu Lynx memandang Isha,"Tunggulah disini. Pelindung ini akan melindungimu agar tidak terkena efek jurus."

Meski bingung dengan maksud efek jurus yang dikatakan Lynx, namun Isha menganggukkan kepala menyetujuinya. Dia tahu formasi pelindung yang dimaksud Lynx adalah dinding tidak kasat mata yang membuatnya tidak bisa keluar dari tempat ini saat dia terbangun dari tidurnya.

Lynx mengajak Leena ke tempat luas tidak jauh dari tempat Isha berada. Seperti biasanya, Ia sendiri cukup menggunakan kekuatan fisik untuk menghadapi Leena, dan dia juga sengaja menurunkan lebih banyak kekuatannya agar tak melukai Leena.

"Baiklah Lynx, aku ingin tahu seberapa kuat dirimu sebenarnya. Puaskan penasaranku." Leena menatap Lynx dengan senyum mengejek.

"Apa maksudnya? Penasaran? Bukankah dia sudah sering melihat kemampuanku." Batin Lynx dengan heran.

Pertarungan pun dimulai.

Leena menyerbu lebih dulu, aura qi mengalir deras di sekujur tubuhnya. Dengan cepat ia melompat ke udara, dan berteriak,

"Void Cleaving Slash!"

Leena memulai dengan jurus yang biasa dia gunakan saat masih di ranah master foundation. Meski jurus terlihat sama, namun kekuatannya sebagai grandmaster menghasilkan dampak serangan yang berbeda.

Dengan penuh konsentrasi, Leena mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya berkilau melingkupi bilahnya, lalu dalam satu ayunan kuat, ia melepaskan gelombang energi yang memancar terang. Energi itu memotong udara, membelah langit dan tanah, menghujam ke arah Lynx seperti meteorit yang terbakar.

Isha dari dalam formasi yang belum pernah melihat energi spiritual dari seorang kultivator merasa kagum dan heran. Dia berpikir semua sinar yang keluar dari tubuh Leena berasal dari perangkat teknologi canggih.

Namun Lynx yang mendapatkan serangan dari Leena tetap tenang. Ia mengangkat tangan kirinya dan… PLAK! menangkap energi pedang itu begitu saja, menghentikannya tanpa terluka.

"Menakjubkan… Serangan jurus ini meningkat berkali lipat seiring meningkatnya ranahmu." ucapnya sambil tersenyum.

Namun di dalam hati Lynx membandingkan jurus ini dengan kekuatan leluhur sekte Api Langit yang pernah di hadapinya."Leena baru saja menjadi grandmaster, kenapa `serangannya bisa sekuat immortal?"  Batinnya dengan heran. "Selain itu aku merasa dia sungguh-sungguh mengeluarkan semua kekuatannya, bukan sekedar berlatih. Bahkan aku merasa seolah dia ingin membunuhku."

Mendengar pujian Lynx hanya membuat Leena tersenyum sinis.

"Itu baru permulaan." Batin Leena. Sorot matanya kembali terlihat berbeda .

Leena tak berhenti. Ia melompat maju dan mengangkat tangan kirinya tinggi ke atas.

"Golden Abyss Palm!"

BOOM!

Telapak tangannya menghantam dada Lynx dengan ledakan dahsyat. Qi-nya, yang kini berkumpul meledak ke segala arah seperti gelombang matahari. Tapi tubuh Lynx tetap tak bergeming. Tak ada goresan. Tubuhnya tidak bergeser sedikitpun.

Leena tidak menghentikan gerakannya, jurus berikutnya langsung dikeluarkan.

"Heavenflame Petal Dance…" bisik Leena pelan.

Aura di sekelilingnya langsung berubah. Angin berputar liar, tanah di bawahnya retak. Tubuhnya mulai berputar seperti penari, setiap langkah meninggalkan jejak api yang mengambang. Bayangan pedang seperti kelopak merah keemasan melayang-layang di udara, berputar mengelilingi dirinya. Dalam satu gerakan, semua kelopak api melesat ke arah Lynx.

BOOOOMMMM!

Ledakan menggelegar mengguncang tanah. Sebuah kawah besar terbentuk di tempat Lynx berdiri. Debu membumbung tinggi.

Namun ketika debu menghilang…

Lynx tetap berdiri di sana. Tangannya menjepit salah satu kelopak api terakhir. Ia menghela napas. "Bagaimana mungkin, serangan ini terlihat berbeda saat dia menghadapi para petarung. Sejak kapan kekuatannya meningkat seperti ini. Dengan serangan ini, Immortal tahap menengah pun akan terpental dan terluka serius… " Ia menatap Leena dengan bingung, "Apakah tubuh istimewanya yang membuat kekuatannya meningkat drastis? Aku harus memastikannya nanti."

"Jurusmu ini sangat luar biasa Leena. Aku rasa jurus ini sangat cocok denganmu." Kata Lynx memuji tulus. Namun tatapannya tidak lepas memperhatikan ekspresi Leena. Dia semakin merasa ada yang aneh namun tetap belum bisa menemukannya.

Leena menggertakkan gigi. Wajahnya terlihat kesal.

"Tapi serangan ini tidak berefek saat aku menghadapi Grakkon bukan?" gumamnya pelan.

Lynx mengkerutkan wajahnya,"Tidak ada yang berbeda. Ekpresi itu memang Leena." Lynx menggunakan mata langit untuk memeriksa tubuh Leena, namun tidak menemukan sesuatu yang berbeda ataupun mencurigakan.

Tidak lama kemudian, ekspresi Leena berubah. Sebuah senyuman muncul. Bukan senyum kekesalan… melainkan senyuman tenang, dingin, nyaris seperti bukan Leena. Matanya bersinar keemasan, lalu berubah menjadi tajam, seperti bara dalam api gelap.

Aura di tubuh Leena mulai bergetar liar.

"Hellfire Ascension," ucap Leena lirih.

Seketika, aura api emas kehitaman meledak dari tubuhnya. Api itu berbeda dengan api yang pernah Lynx lihat. Penuh tekanan, ganas, dan murni. Pedangnya menyerap aura itu hingga seluruh bilahnya menyala menyilaukan.

"Jurus apa ini? Sejak kapan dia mempelajarinya?" Batin Lynx.

Cahaya api emas kehitaman mendadak menghilang, seiring kekuatan Leena terasa meningkat drastis.

Dengan satu ayunan…

DUAAAAAR!

Energi pedang yang dilepaskan melesat sangat cepat bagaikan meteor neraka.

Seperti sebelumnya, Lynx mengangkat tangannya dengan santai untuk menangkap energi pedang, tapi…

BRAK!

Tubuh Lynx terlempar seperti anak panah. Ia menembus udara dengan kecepatan luar biasa, membelah hutan, sungai, dan akhirnya...

DUARR!!

Menabrak sebuah gunung dan menembusnya. Tubuhnya terus meluncur melewati dua gunung lainnya sebelum akhirnya jatuh berguling dan berhenti di tengah lembah berbatu.

Beberapa detik berlalu. Tanah bergetar. Angin berhenti berhembus. Debu belum sepenuhnya mereda.

Lynx terbaring diam di antara reruntuhan. Dadanya naik turun pelan. Ia tidak merasa sakit, tapi... ia merasakan kejutan yang belum pernah ia alami sebelumnya.

"…Apa yang barusan… terjadi?" pikirnya.

Tubuhnya masih utuh, dia tidak terluka, tetapi pakaian yang digunakannya hancur, lapisan pelindung energi saktinya yang selalu digunakan untuk melindungi pakaiannya agar tida terkena serangan lawan tertembus.

Ia duduk perlahan, lalu berdiri.

"Bahkan aku yakin serangan gabungan dari beberapa immortal tingkat akhir… tidak akan bisa menggeser kakiku sejengkal pun," gumamnya. "Tapi dia…"

Lynx menoleh ke arah medan pertarungan, lalu berkelebat, kembali ke tempat semula.

Begitu tiba, ia langsung menemukan Leena… tergeletak di tanah, tak sadarkan diri. Api emas hitam yang menyelimuti tubuhnya telah menghilang, menyisakan sisa aura yang masih panas dan liar.

Lynx segera menghampiri, memeriksa nadinya. Denyutnya masih ada, tapi tubuh Leena kehabisan qi.

"Serangan sekuat itu... pasti banyak energi yang dia lepaskan… dan teknik itu, Hellfire Ascension, kemungkinan besar belum bisa ia kuasai sepenuhnya. Jurus yang mengerikan." Batin Lynx sambil menggelengkan kepalanya.

"…Jadi ini alasanmu menantangku," bisik Lynx, seraya mengangkat tubuh Leena ke pelukannya.

Ia menatap langit yang perlahan gelap. Hatinya diliputi kekaguman… dan kekhawatiran.

"Jika Leena bisa mengeluarkan kekuatan seperti ini… darimana sebenarnya dia mendapatkannya?"

sementara itu dari dalam tubuh leena, sosok roh spiritual tersenyum mengejek,"Ternyata hanya seperti ini kekuatannya. Andai aku tidak terluka dan tubuh anak ini bisa menahan kekuatanku, pemuda itu pasti sudah hancur menerima pukulanku tadi."

